Apakah Perbedaan Antara Kebijakan Moneter dan Kebijakan Fiskal – Seri Memahami Makroekonomi (3)




Sering kita mendengar ada dua macam kebijakan di dalam perekonomian. Kedua kebijakan tersebut adalah kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Menurut literatur makroekonomi di level intermediate, baik kebijakan moneter maupun fiskal bertujuan untuk menstabilkan ekonomi yang sering berfluktuasi di luar titik naturalnya. Fluktuasi ini dapat berupa pertumbuhan ekonomi yang terlalu cepat atau lambat, maupun tingkat pengangguran yang terlalu tinggi atau malah terlalu rendah. Pertumbuhan ekonomi yang terlalu tinggi di luar batas wajar bisa jadi mengindikasikan adanya bubble dalam perekonomian yang rentan pecah yang kemudian disusul dengan jatuhnya PDB atau setidaknya pertumbuhan ekonomi mendadak stagnan.




Namun, bila kita memasukkan literatur dalam bidang keuangan publik dan ekonomi publik, kebijakan fiskal juga merupakan kebijakan yang bertujuan untuk menghasilkan barang publik yang merupakan komplemen terhadap barang modal di sektor swasta. Dengan adanya barang publik yang memadai, ekonomi dapat mencapai level output yang optimal. Pertanyaannya, apakah yang dimaksud dengan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal?




Kebijakan moneter adalah kebijakan yang dilakukan dengan cara mengendalikan uang yang beredar di masyarakat. Pengurangan terhadap uang yang beredar bertujuan mengurangi pertumbuhan ekonomi yang dianggap terlalu cepat sehingga terhindar dari overheating dalam perekonomian. Instrumen yang sering digunakan adalah suku bunga. Argumentasi yang diajukan adalah dengan meningkatnya suku bunga, masyarakat memilih menabung uangnya di bank daripada membelanjakannya. Namun, ada kelemahan dalam teori ini. Kelemahan terbesar adalah pendapat keynesian bahwa besarnya tabungan lebih ditentukan oleh besarnya pendapatan. Sederhananya, sebesar apapun bunga, kalau uang yang untuk ditabung tidak ada ya lalu apa yang akan ditabung.




Mungkin, argumentasi yang lebih tepat adalah ketika Bank Indonesia (BI) meningkatkan yield Sertifikat Bank Indonesia (SBI), perbankan enggan mengucurkan kreditnya ke masyarakat. Tanpa perlu bersusah payah, perbankan sudah mendapatkan keuntungan yang lumayan. Akibatnya, perbankan hanya mengucurkan kredit kepada debitur yang dianggap sangat reliable. Lagi pula, dengan tingginya suku bunga juga mengakibatkan demand terhadap pinjaman menurun karena secara teknis harga barang yang dibeli secara kredit menjadi lebih mahal. Akibatnya, transaksi perdagangan yang terjadi menyusut sehingga pertumbuhan ekonomi melambat.




Di berbagai negara saat ini, wewenang untuk mengambil kebijakan di bidang moneter adalah bank sentral yang berposisi independen dari pemerintah. Tujuan pemisahan bank sentral dari pengaruh pemerintah adalah agar tidak terjadi konflik kepentingan dimana pemerintah mencetak uang sebanyak-banyaknya untuk mendanai pengeluarannya.




Di sisi lain, kebijakan fiskal adalah kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah dengan menggunakan instrumen pajak dan belanja pemerintah. Dengan kedua instrumen tersebut, pemerintah berusaha mempengaruhi permintaan agregat di dalam perekonomian. Pengurangan pajak, misalnya, dapat meningkatkan daya beli masyarakat. Sementara, pembangunan infrastruktur secara besar-besaran dapat memberikan multiplier effect pada wilayah di sekitar pembangunan.




Salah satu bentuk kebijakan fiskal adalah pengadaan barang publik, seperti jalan raya, jembatan, militer, dan penegakan hukum. Barang publik ini diperlukan untuk mengoptimalkan barang modal, yang nantinya akan mengoptimalkan Produk Domestik Bruto (PDB) dalam perspektif jangka panjang. Misalnya, infrastruktur jalan yang memadai dapat menurunkan biaya logistik sehingga produktivitas di sektor swasta meningkat. Atau, sebagai contoh lain, penegakan hukum dalam rangka perlindungan atas hak kepemilikan individu (property right) dapat mendorong investasi karena dengan tidak adanya preman dan pungli, keuntungan investor menjadi optimum. Peningkatan investasi ini dapat mendorong pertumbuhan PDB natural.




Jadi, apa yang bisa kita simpulkan? Kebijakan moneter adalah kebijakan pengendalian uang beredar, dimana instrumen yang lazimnya digunakan adalah penetapan suku bunga. Sementara, kebijakan fiskal adalah kebijakan ekonomi yang menggunakan instrumen pajak dan belanja pemerintah. Kebijakan moneter bertujuan untuk mengendalikan volatilitas dalam perekonomian. Adapun kebijakan fiskal dapat bertujuan untuk mengendalikan volatilitas dalam perekonomian atau mendorong optimalisasi perekonomian dalam perspektif jangka panjang.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas internetbermanfaat.com.




Tinggalkan Balasan