Bedakan antara Kebutuhan, Keinginan, dan Permintaan (Demand)




Salah satu penyeberang di Birmingham City Centre (Foto: Koleksi Pribadi)

Melanjutkan obrolan soal marketing di tulisan sebelumnya, salah satu pengetahuan yang harus dimiliki oleh siapapun yang ingin menguasai seni marketing adalah membedakan antara kebutuhan, keinginan, dan demand. Kebutuhan adalah segala hal yang diperlukan oleh manusia secara alamiah. Contoh dari kebutuhan adalah makanan, pakaian, tempat tinggal, hubungan sosial, aktualisasi diri, dll. Sementara, keinginan adalah cara manusia memenuhi kebutuhannya yang dibentuk oleh budaya dan preferensi pribadi. Sebagai contoh, makanan pokok orang Inggris adalah roti, sementara orang Indonesia adalah nasi. Atau, ketika berlebaran, orang Jawa memasak opor ayam, sementara orang Minang memasak rendang.




Ketika keinginan didukung oleh daya beli, maka keinginan tadi berubah menjadi demand. Sebagai contoh, semua orang membutuhkan moda transportasi. Dan budaya yang kemudian membentuk apakah moda transportasi yang diinginkan berupa sepeda, bus kota, subway, sepeda motor, atau mobil. Dan misalnya seseorang menginginkan mobil, maka daya belinya yang akan menentukan apakah demand orang tersebut berupa Avanza, Alphard, atau BMW.




Mengetahui perbedaan ini penting karena nantinya akan mempengaruhi bagaimana strategi marketing sebuah perusahaan. Misalnya, perhatikan bagaimana McDonald’s memasukkan nasi ke dalam menunya di Indonesia. Dengan budaya di Indonesia dimana nasi adalah makanan pokok yang wajib ada, maka akan menjadi sebuah kesalahan besar apabila McD bersikukuh hanya menjual burger, kentang, dan ayam goreng. McD bisa tetap menjual burgernya di Indonesia, namun apabila mereka ingin meningkatkan penjualan burgernya secara signifikan, maka McD harus melakukan revolusi budaya terlebih dahulu di Indonesia, yang mana hal tersebut akan memakan biaya yang sangat besar pun belum tentu berhasil. Sementara, seandainya pun sukses, perusahaan kompetitor semacam Burger King bisa menjadi free rider atas usaha McD.




Mengambil contoh lain yang masih dalam bisnis kuliner, mengidentifikasi demand atas segmen bisnis yang dituju juga perlu. Jika yang anda sasar adalah masyarakat menengah ke bawah, maka anda harus mengidentifikasi bagaimana demand di segmen ini, yaitu rasa enak, harga murah, tempat tidak perlu terlalu nyaman, volume pembelian rutin tiap hari terutama di hari kerja. Maka, bisnis warteg bisa menjadi model bisnis yang tepat. Di sisi lain, kalau yang anda sasar adalah kalangan urban menengah ke atas, maka demand di segmen ini adalah tempat nyaman, enak buat berkumpul, mudah dijangkau dari tempat kerja atau tempat tinggal, makanan disajikan dengan tampilan instagrammable, porsi tidak perlu besar, siap membayar mahal, tentu model bisnisnya berbeda jauh dengan warteg. Itu sebabnya, mengidentifikasi demand di segmen yang akan kita layani adalah suatu keharusan.

Demikian pembahasan kali ini. Nantikan terus bahasan marketing di postingan-postingan kami berikutnya. Semoga bermanfaat. Dan jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas internetbermanfaat.com.




Tinggalkan Balasan