Duopoli Industri Penerbangan Domestik Akhirnya Memakan Korban: Konsumen

Sahabat bermanfaat semuanya. Akhir-akhir ini timeline di media sosial ramai membicarakan tentang mahalnya biaya perjalanan menggunakan moda pesawat terbang. Sejumlah konsumen menengarai harga tidak kunjung turun pasca libur akhir tahun. Bahkan, masyarakat menemukan fakta bahwa dengan kilometer perjalanan yang sama, tarif perjalanan ke luar negeri ternyata jauh lebih murah daripada penerbangan domestik.

Tidak cukup sampai di sana, konsumen juga harus semakin gigit jari karena Lion Air menghapus jatah bagasi gratis untuk penerbangan domestik dan Citilink pun memiliki rencana untuk melakukan hal yang serupa. Mungkin, dua hal yang menghalangi Citilink untuk segera melakukan hal serupa adalah posisi Citilink sebagai BUMN sementara kita memasuki tahun politik.




Di sektor jasa pengiriman barang, sejumlah perusahaan logistik juga mengeluhkan kenaikan biaya pengiriman via jalur udara yang sangat signifikan. Tidak tanggung-tanggung, dalam tempo hanya 6 bulan saja semenjak Bulan Juli 2018, tarif pengiriman kargo udara naik 300%. Sebuah peningkatan yang sangat fenomenal.

Jujur saja, saya sendiri sejak lama sudah memperkirakan bahwa hal-hal seperti ini akan terjadi. Perkiraan saya ini didasari oleh struktur industri penerbangan rute dalam negeri yang kini dikuasai oleh duopoli Lion Air Group dan Garuda Indonesia Group. Kompetitor terakhir yang tersisa, Sriwijaya Air, akhirnya harus mengibarkan bendera putih dan bergabung dengan Garuda Indonesia Group.




Indikator pengaruh atas kekuatan duopoli ini sederhana saja. Lion Air dan Citilink hanya berani menghapus bagasi gratis untuk rute domestik saja. Untuk rute internasional, dua maskapai ini tidak berani. Mengapa? Apakah karena ada kompetitor lain di sana? Kompetitor semisal Emirates, Qantas dan Singapore Airlines? Sehingga duopoli tidak terjadi?

Jika hal ini terus terjadi, maka pertumbuhan ekonomi kita akan sangat terhambat. Keinginan pemerintah untuk meningkatkan industri pariwisata dalam negeri bisa tidak tercapai. Masalah bisa merembet ke manajemen cadangan devisa jika sampai terjadi peningkatan wisata yang signifikan ke luar negeri. Mahalnya biaya bagasi juga bisa mengakibatkan para konsumen yang sedang mudik ke kampung halaman mengurangi belanja oleh-olehnya, di samping (tentunya) penurunan frekuensi pulang kampung yang terjadi karena harga dasar tiketnya yang sudah mahal. Pukulan yang semakin dalam bagi ekonomi lokal.




Maka, fenomena ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita semua, terutama pemerintah yang memperoleh mandat dari rakyat untuk memastikan kepentingan masyarakat tidak tercederai. Pemerintah seharusnya mengupayakan agar tidak terjadi situasi persaingan yang tidak sehat. Pemerintah seharusnya melakukan pencegahan agar tidak muncul situasi dimana perusahaan-perusahaan dapat melakukan praktik oligopoli, duopoli, bahkan monopoli.

Memang, ada komitmen bahwa harga tiket Garuda Indonesia Group akan turun. Kebetulan, kita memasuki tahun politik. Namun, ketika kita berbicara kontinuitas dan keberlangsungan dalam jangka panjang, komitmen-komitmen seperti ini terlalu rapuh. Apalagi, tanpa adanya harga yang terbentuk dari persaingan yang sehat, pemerintah dan masyarakat tidak benar-benar memiliki benchmark, berapakah harga yang wajar dari sebuah rute perjalanan.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas internetbermanfaat.com.




Tinggalkan Balasan