Memahami Konsep Marketing dengan Benar: Marketer Sejati Seharusnya Fokus pada Value




Salah satu sisi Kota Birmingham (Foto: Koleksi Pribadi)

Ketika mendengar kata marketing, umumnya yang terbayang oleh orang awam adalah persoalan yang terkait dengan promosi dan periklanan. Apabila mereka ingin meningkatkan penjualan, maka yang harus dilakukan adalah beriklan dan berpromosi. Pemikiran seperti ini bukan hanya terjadi di kalangan masyarakat Indonesia, namun juga dunia. Menganggap bahwa marketing adalah menjual produk bisa mengakibatkan perusahaan hanya fokus pada produk mereka sendiri namun tidak mendengar apa yang menjadi demand konsumen. Akibatnya, perusahaan ini terkadang all out dalam berpromosi dan beriklan atas produk yang mungkin tidak diinginkan konsumen. Hal ini dapat mengakibatkan inefisiensi dalam perusahaan, dan yang lebih parah bahkan dapat mengakibatkan perusahaan mengalami kerugian karena mengeluarkan biaya promosi yang besar namun tidak diimbangi dengan peningkatan penjualan yang diharapkan. Padahal, Peter Drucker, seorang legenda di bidang manajemen, pernah berkata bahwa tujuan marketing adalah membuat anda tidak perlu susah-susah menjual. Kalau anda bisa merancang produk yang memiliki value yang tepat, konsumen lah yang akan mengejar anda.




Ada beberapa definisi marketing dari berbagai buku. Namun, bagi saya, definisi marketing yang paling pas adalah menciptakan value untuk customer sehingga perusahaan memiliki hubungan yang menghasilkan profit dengan customer  mereka. Definisi ini diajukan oleh Kotler dan Armstrong dalam buku mereka yang berjudul Principles of Marketing 14th Edition. Jadi, kalau anda ingin menjadi marketer sejati, fokus anda adalah menciptakan value untuk customer dan bukan pada menjual produk.




Kalau anda ingin mengetahui bagaimana seorang marketer sejati berpikir, tulisan Wientor Rah Mada yang membahas tentang bagaimana strategi terbaik para travel agent dalam menghadapi Traveloka bisa menjadi contoh. Dalam membahas solusinya, Bang Wientor menjelaskan value yang dimiliki para Online Travel Agents (OTA) termasuk Traveloka yang tidak bisa direproduksi oleh travel agent konvensional. Salah satunya adalah sistem bisnisnya yang mengadopsi sistem start-up di USA yang tidak mementingkan profit melainkan pendanaan dari venture capitalists sehingga harga bisa ditekan semurah mungkin. Solusi yang ditawarkan oleh Bang Wientor adalah melihat value yang dimiliki oleh para agen travel konvensional yang belum bisa diadopsi oleh Traveloka, yaitu melayani segmen korporat dan pemerintahan yang membutuhkan fleksibilitas dalam hal pembayaran, haji dan umroh yang membutuhkan layanan yang sifatnya personal, ataupun paket wisata ke tempat-tempat yang tidak konvensional. Perhatikan bagaimana Bang Wientor tidak membahas permasalahan ini dari bagaimana menarik pelanggan, namun beliau fokus pada sisi value bagi customer.




Maka, demikian juga seharusnya seorang marketer sejati berpikir. Marketing seharusnya tidak berbicara mengapa konsumen  harus membeli produk mereka. Marketing seharusnya mendengarkan apa yang menjadi demand customer, merancang suatu produk yang memenuhi ekspektasi customer, dan kemudian mengomunikasikan produk tersebut ke customer agar para customer tahu. Maka sejatinya, ketika kita bicara soal marketing, maka kita berbicara dari hulu ke hilir. Dari bagaimana menciptakan produk sampai dengan bagaimana agar konsumen mengetahui value dari produk tersebut. Dan jika anda bisa menemukan racikan value yang pas, maka anda tidak perlu susah-susah menjual. Konsumen lah yang mengejar anda.

Lebih rinci soal marketing ini insya Allaah akan dibahas dalam tulisan selanjutnya. Pantau terus internetbermanfaat.com untuk mendapatkan artikel-artikel marketing berikutnya.




Tinggalkan Balasan