Mengapa Rupiah Melemah Sampai Menyentuh 15 Ribu: Seri Memahami Pelemahan Rupiah (1)




Kurs Dollar terhadap Rupiah per 10 Oktober 2018 (Sumber: Google.com)

Selamat malam sahabat bermanfaat. Sebagaimana kita ketahui, rupiah saat ini sudah menyentuh angka 15 ribu rupiah. Tentu wajar jika hal ini menjadi sorotan bagi kita semua karena kita pernah memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan ketika terjadi rangkaian pelemahan rupiah 20 tahun lalu, yaitu pada periode tahun 1997-1998. Kali ini, internetbermanfaat.com akan membahas masalah pelemahan kurs rupiah ini. Pembahasan akan kita bagi ke dalam empat sesi bahasan. Yang pertama, mengapa dollar menguat? Yang kedua, apakah penguatan ini akan terus berlangsung, akan segera menemui titik ekuilibrium baru, ataukah rupiah bisa kembali ke level 13 ribuan? Yang ketiga, negara mana saja yang terdampak dan bagaimana nasib Indonesia? Dan yang terakhir, apa yang sebaiknya pemerintah kita lakukan?




Pada tulisan kali ini, kita akan bahas dulu masalah yang pertama, yaitu mengapa dollar menguat. Ada tiga alasannya. Yang pertama, adanya kebijakan pengurangan pajak di Amerika Serikat. Kebijakan pengurangan pajak ini mengakibatkan investasi di Amerika Serikat menjadi semakin menarik dan banyak investor yang kemudian menarik uangnya dari negara-negara emerging economies, misalnya Indonesia dan Brazil, dan kemudian menginvestasikannya ke negeri Paman Sam.




Alasan kedua adalah keputusan Presiden Donald Trump melonggarkan regulasi industri terkait masalah lingkungan. Akibatnya, perusahaan-perusahaan AS kini bisa melakukan aktivitas industrinya secara tidak ramah lingkungan yang secara teknis lebih murah. Hal inilah yang kemudian diprediksi meningkatkan competitive advantage dan profitabilitas perusahaan-perusahaan Amerika Serikat dan meningkatkan ketertarikan investor untuk menanamkan modalnya di sana.




Alasan yang terakhir, dan yang paling utama, adalah keputusan Federal Reserves, bank sentral Amerika Serikat, meningkatkan suku bunga. Suku bunga di Amerika Serikat semenjak tahun 2008 memang sangat rendah, yaitu mendekati 0%, karena Federal Reserves berusaha memacu sektor riil untuk menghadapi krisis keuangan yang muncul di tahun tersebut. Semenjak tahun 2015, Federal Reserves berangsur-angsur meningkatkan kembali suku bunganya untuk mencegah overheating karena pulihnya perekonomian Amerika Serikat. Inilah yang mengakibatkan pelemahan rupiah yang terus terjadi semenjak beberapa tahun terakhir. Dan yang terbaru, The Fed meningkatkan kembali suku bunganya di bulan Juni 2018 akibat tingkat pengangguran yang sudah terlalu rendah dibandingkan tingkat naturalnya dan inflasi yang sudah menyentuh angka 2%. Akibat kenaikan suku bunga ini, investor pun memilih mengalihkan dananya dari emerging economies menuju Amerika Serikat.




Kesimpulannya, ada tiga alasan pelemahan rupiah, yaitu pemotongan pajak, pelonggaran regulasi industri terkait masalah lingkungan, dan kenaikan suku bunga. Ketiga hal ini mengakibatkan investor memilih untuk menarik dananya dari emerging economies menuju Amerika Serikat, dan hal inilah yang menyebabkan pelemahan mata uang di berbagai emerging economies termasuk Indonesia. Lalu, seberapa lama pelemahan ini akan berlangsung? Kira-kira rupiah bisa mencapai level kurs berapa? Insya Allaah kita bahas pada tulisan berikutnya.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas internetbermanfaat.com.




Tinggalkan Balasan