Mobil MINI, Sebuah Karya Seni dalam Balutan Kesederhanaan ala Inggris




MINI 1000 Mark 4 Mr Bean (Foto: Nathan Wong, Wikipedia)

Nama MINI mungkin cukup asing di telinga masyarakat Indonesia. Sebagai sebuah mobil eropa, MINI tidak terdengar semewah BMW, tidak se-mainstream Ford, atau pun tidak sepopuler Volkswagen. Namun begitu, MINI tetap punya basis fansnya sendiri, termasuk di Indonesia. Salah satu film yang cukup mempopulerkan MINI adalah Mr Bean dengan mobil kuning khasnya, yaitu British Leyland Mini 1000 Mark 4. Sebuah film komedi khas Inggris, diperankan oleh aktor Inggris, ditemani dengan mobil Inggris, sebuah kombinasi yang kental dan unik.

1959 Morris Mini-Minor (Foto: DeFacto, Wikipedia)

Sebagai seorang yang pernah menjalani kehidupan di Inggris selama dua tahun, saya melihat bahwa orang-orang Inggris adalah orang-orang yang sederhana, simpel, namun berkelas. Dan hal itu dapat kita temui dalam desain MINI. Desainnya yang kompak, simpel, namun elegan menjadikan MINI menjadi salah satu simbol pop culture di tahun 1960an, bersaing dengan VW Beetle.



MINI awalnya diproduksi oleh British Motor Corporation (BMC) di tahun 1959 dan segera menjadi ikon otomotif di Inggris. BMC, yang bermarkas di Longbridge yang berdekatan dengan Kota Birmingham, akhirnya melakukan merger dengan Leyland Motors di tahun 1968 menjadi British Leyland. Tahun 1980an, British Leyland mengalami perpecahan dan di tahun 1988, Rover Group, termasuk MINI di dalamnya, diakuisisi oleh British Aerospace. Di tahun 1994, Rover Group diakuisisi oleh BMW. Pada tahun 2000, Rover Group dan BMW sepakat berpisah dimana MINI dimiliki oleh BMW.

MINI rasa BMW (Foto: National Highway Traffic Safety Administration, Wikipedia)

Kepemilikan MINI oleh BMW membuat MINI mengalami perubahan drastis. Meskipun masih mempertahankan unsur ke-“mini”-annya, desain MINI menjadi lebih bernuansa mewah ala BMW. Dan meski desainnya terlihat “mini”, namun untuk beberapa desain sebenarnya memiliki lebar yang mungkin setara dengan Fortuner atau Innova. Ini saya alami sendiri ketika beberapa kali bertemu MINI Hatchback di jalanan Jakarta. Mobil ini memenuhi jalan sehingga merepotkan saya untuk menyalip. Well, mana yang lebih baik antara MINI klasik maupun MINI BMW adalah masalah selera. Dan yang namanya selera, tidak ada benar dan salah, betul?

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas internetbermanfaat.com.



3 tanggapan pada “Mobil MINI, Sebuah Karya Seni dalam Balutan Kesederhanaan ala Inggris”

  1. Di indonesia juga banyak lho pak produk yang mini, walau tidak sekelas dengan yang di inggris salah satu yang populer adalah “sepada mini” hehhehehe….. tapi benarkan ada.

Tinggalkan Balasan