Pentingnya Memahami Pasar dan Beradaptasi: Bagaimana Epson Mulai Menguasai Segmen Alat Cetak di Kantor-Kantor Pemerintahan




Salah Satu Printer Epson L Series (Foto: www.epson.co.id)

Sahabat bermanfaat sekalian, setelah saya menyelesaikan studi dan kembali ke kantor saya untuk beraktivitas, saya memperhatikan bahwa umumnya printer-printer baru di kantor saya bermerek Epson. Pun demikian ketika saya melakukan penugasan sebagai auditor ke instansi pemerintahan lainnya, printer baru mereka juga Epson. Hal ini cukup unik  karena berdasarkan pengalaman saya, segmen printer inkjet di kantor pemerintahan dikuasai oleh Canon sementara laserjet dikuasai HP. Apa penyebab fenomena ini? Jawabannya sederhana. Printer-printer inkjet Epson terbaru menggunakan tangki dan para pegawai di kantor tidak perlu susah-susah menyuntik cartridge seperti dulu lagi.




Hal ini harus menjadi perhatian serius bagi Canon dan HP. Saya masih ingat bagaimana Canon dulunya sangat merajai segmen inkjet printer di kantor-kantor pemerintahan. Tiap ada printer inkjet baru yang dibeli, bisa ditebak Canon pilihannya. Sementara, printer-printer laserjet semuanya bermerek HP. Melihat antusiasme pembelian printer-printer baru inkjet Epson dengan tipe L100 dan L300 saat ini, saya memprediksi akan terjadi pergeseran yang cukup signifikan dalam beberapa tahun ke depan di seluruh segmen mesin cetak, baik inkjet dan laserjet. Bukan hanya market share Canon yang berada di segmen inkjet yang bisa dicaplok, kemudahan mengisi tinta bisa mensubtitusi printer laserjet HP yang menawarkan kemudahan penggantian toner namun harganya mahal.




Strategi bisnis di pasar mesin cetak memang unik. Konon, harga printer baru disubsidi sehingga menjadi murah. Para produsen mencari untung dari menjual tinta. Untuk melindungi produk tinta mereka dari masuknya produsen tinta pihak ketiga, mereka menjual tinta mereka dalam bentuk cartridge. Akibatnya, harga cartridge printer menjadi mahal dan mendekati harga beli printer baru. Sebagai gambaran, printer Canon IP 2770 per 10 Maret 2018 dibanderol dengan harga sebesar Rp673.000,00 sementara kalau membeli kedua cartridge hitam-putih dan warna satu set sebesar Rp483.000,00. Strategi ini mungkin bisa berjalan di negara maju yang mungkin menganggap uang $16 bukan jumlah yang besar jika dibandingkan dengan pendapatan bulanan mereka. Namun, di negara berkembang seperti Indonesia, strateginya tentu harus berbeda. Maka, jangan heran kalau produsen tinta suntik justru menjadi pihak yang meraup untung cukup besar di Indonesia. Dengan volume tinta botolan yang setara 4 sampai 5 cartridge namun dengan harga yang hanya 15%-nya, value yang ditawarkan oleh para produsen tinta pihak ketiga jelas lebih besar.




Mungkin karena jengah melihat bagaimana keuntungan penjualan tinta justru banyak dinikmati orang lain, Epson akhirnya menjadi produsen printer pertama yang menawarkan printer inkjet dengan sistem isi ulang botolan. Dan memang strategi ini bekerja. Bukan hanya printer-printernya kini menjadi salah satu pilihan utama di kantor-kantor pemerintah, botol isi ulang resminya pun laku. Jika harga tidak berbeda jauh, tentu orang akan lebih memilih membeli tinta resmi ketimbang membeli tinta milik produsen pihak ketiga. Maka, menarik ditunggu, apakah Canon dan HP akan diam saja melihat perubahan strategi bisnis Epson atau bergerak. Kita lihat saja.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas internetbermanfaat.com.




Tinggalkan Balasan