Potret Kesenjangan Pendapatan di Indonesia dalam Statistik




Setelah kita membahas apakah pertumbuhan ekonomi memang diikuti dengan pertumbuhan pendapatan per kapita dalam tulisan sebelumnya, kita perlu juga membahas, apakah pertumbuhan pendapatan per kapita benar-benar dirasakan oleh mereka yang berada di level ekonomi terendah di negara kita. Maklum, pertumbuhan pendapatan per kapita itu adalah angka rata-rata nasional, sementara realitas distribusi pertumbuhannya bisa jadi tidak sama. Itu sebabnya, penting juga membahas bagaimana struktur distribusi pendapatan nasional.



Jadi, bagaimana kita mengetahui apakah pertumbuhan pendapatan per kapita benar-benar dirasakan oleh sebagian besar rakyat? Cara yang paling sederhana adalah dengan melihat distribusi pendapatan nasional. Jika kesenjangan antara rakyat dengan penghasilan tertinggi dengan penghasilan terendah melebar, itu artinya pertumbuhan pendapatan per kapita lebih banyak dinikmati oleh mereka berpenghasilan tinggi. Jika relatif stabil, maka kita dapat menyimpulkan bahwa sebagian besar rakyat menikmati peningkatan pendapatan. Jika data pendapatan tidak tersedia, alternatif yang bisa digunakan adalah menggunakan data pengeluaran. Meskipun tidak bisa benar-benar mengukur penghasilan secara akurat, namun setidaknya data belanja bisa menjadi alternatif. Bukankah kita susah payah bekerja mencari pendapatan untuk kita belanjakan. Kelemahannya tentu pada marginal propensity to consume yang tidak sama antara mereka berpenghasilan tinggi dengan mereka yang berpenghasilan rendah (coba googling marginal propensity to consume bagi mereka yang kurang paham). Tapi, data yang sedikit kurang akurat masih lebih baik daripada tidak ada data sama sekali bukan.




Mari kita perhatikan diagram 1 di bawah. Berdasarkan diagram 1, kita bisa melihat bahwa kesenjangan distribusi pengeluaran antara mereka yang berada di posisi 20% teratas dengan mereka yang berada di posisi 40% terendah relatif stabil. Ini menunjukkan bahwa besaran belanja antara si kaya dengan si miskin tumbuh sesuai proporsinya. Itu artinya, pertumbuhan pendapatan per kapita Indonesia dinikmati merata oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Diagram 1: Kesenjangan Pengeluaran di Indonesia (Data: BPS)




Namun, ada kelemahan dalam data statistik ini. Pertama, BPS menyajikan data pengeluaran terendah sebesar 40% dari populasi. Angka sebesar 40% berarti data pengeluaran terendah hampir mencapai median dari populasi, yang mana data ini terlalu besar untuk bisa menggambarkan kondisi kesenjangan sosial. Kita tidak benar-benar tahu, apa yang terjadi pada 10% terendah, yang bisa jadi berbeda secara signifikan dibanding rekan mereka yang 30% lainnya. Idealnya, untuk benar-benar memahami dinamika dalam kesenjangan sosial, angka yang digunakan adalah 10% pengeluaran tertinggi dan 10% pengeluaran terendah.



Alternatif untuk bisa menilai situasi kesenjangan ini adalah dengan menggunakan GINI indeks. Diagram 2 juga menunjukkan bahwa GINI indeks relatif stabil. Itu artinya, secara teknis, memang kesenjangan antara mereka yang berpenghasilan tinggi dengan mereka yang berpenghasilan terendah masih sama sebagaimana yang ditunjukkan oleh diagram 1.

Diagram 2: GINI Index Indonesia (Data: BPS)




Apa yang bisa kita simpulkan dari data-data statistik BPS? Pertumbuhan pendapatan per kapita Indonesia, secara statistik, ternyata memang dirasakan oleh sebagian besar penduduk Indonesia. Kesenjangan pendapatan yang relatif stabil menunjukkan bahwa kenaikan pendapatan yang ada dibagi merata secara persentase (bukan jumlah). Namun, kita juga perlu mencermati bahwa data yang disajikan BPS mengenai distribusi pengeluaran kurang komprehensif. Angka 40% pengeluaran terendah terlalu besar sehingga kita tidak benar-benar tahu bagaimana kondisi masyarakat 10% terbawah, padahal mereka ini yang paling rentan dan membutuhkan perhatian kita.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas internetbermanfaat.com.



Tinggalkan Balasan