Rentetan Kejadian yang Mengakhiri Riwayat VOC: Dari Korupsi, Kesalahan Kebijakan Dividen, Sampai Perang Anglo-Dutch Ke-4 – Sejarah VOC (9-Selesai)




Monogram Simbol VOC yang Dulunya Ada di Pintu Masuk Castle of Good Hope (Foto: Andrew Massyn, Wikipedia)

Salah satu teori yang banyak berkembang di Indonesia tentang penyebab kehancuran VOC adalah terjadinya korupsi di dalam VOC. Hal ini memang benar adanya. Untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh, dalam periode tersebut memang hampir semua perusahaan yang beroperasi di India Timur memiliki masalah dengan korupsi (Benua Amerika saat itu dikenal sebagai India Barat sementara India Timur meliputi wilayah India ke timur termasuk Indonesia). Namun, memang korupsi di VOC cukup parah dibandingkan para kompetitornya yang salah satunya disebabkan oleh gaji pegawai yang terlalu rendah. Pada periode 1790an, muncul olok-olok VOC sebagai Vergaan Onder Corruptie yang artinya kurang lebih “musnah akibat korupsi”.




Namun, sebenarnya, korupsi bukanlah satu-satunya penyebab kehancuran VOC. Dari tulisan sebelumnya, kita mengetahui bahwa VOC melakukan kesalahan yang cukup serius karena tidak mengubah model bisnisnya padahal terjadi perubahan permintaan pasar yang mengakibatkan penurunan margin VOC (Detail masalah ini dapat dibaca dalam tulisan ini). Masalahnya, fenomena ini tidak dengan segera disadari oleh VOC. Ada spekulasi bahwa VOC melakukan kesalahan dalam pencatatan laporan keuangan konsolidasi mereka sehingga akhirnya terjadi pembayaran dividen yang melebihi profit yang dilakukan VOC mulai dari tahun 1690 s.d. tahun 1760 dengan pengecualian di periode 1710-1720. VOC tampaknya mulai menyadari kondisi defisit mereka pada tahun 1730 yang ditunjukkan dari aktivitas mereka menarik modal mereka di Asia sebesar 4 juta guilders dari tahun 1730 s.d. 1780 dan modal mereka di Eropa sebesar 20 juta guilders di periode yang sama. Secara manajerial, aktivitas penarikan modal untuk membayar dividen ini tentu melemahkan kekuatan finansial VOC sendiri.




Tidak cukup sampai di sana. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, kesalahan manajerial mereka diperparah dengan terjadinya perang Anglo-Dutch ke-4. Serangan terbuka Inggris di Eropa dan Asia membuat VOC kehilangan sejumlah kargo berharga mereka, mengurangi armada VOC sampai setengahnya, dan menghancurkan sisa-sisa kekuatan VOC di Asia. VOC pun akhirnya bubar setelah piagam perusahaannya tidak diperpanjang lagi pada 31 Desember 1799. Sebagian besar properti VOC pun dikuasai Inggris selama masa perang Napoleon, namun nantinya sebagian dikembalikan ke Belanda melalui sebuah perjanjian pada tahun 1814.




Maka, berakhirlah sudah riwayat VOC, sebuah perusahaan yang tidak ada tandingan di jamannya. Beberapa pakar menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada lagi perusahaan dengan skala sebesar VOC, yang bisa memiliki tentaranya sendiri, menyatakan perang dengan suatu negara, dan membuat perjanjian diplomatik dengan negara lainnya. Hugh Edward, seorang jurnalis asal Australia, dalam bukunya yang berjudul The Wreck on the Half-Moon Reef menyatakan, “General Motors, British Tobacco, Ford, The Shell Company, Mitsubishi, Standard Oil, dan perusahaan raksasa lainnya hari ini berada di level yang setara dengan perajin sepatu di desa apabila dibandingkan dengan kekuasaan, kekuatan, dan pengaruh yang dulu pernah dimiliki oleh VOC.”

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas internetbermanfaat.com.




Tinggalkan Balasan