Apa Masalah yang Dihadapi oleh Para Petani di Indonesia?




Salah satu sudut pedesaan di Kabupaten Pasaman (Foto: Koleksi Pribadi)

Sahabat bermanfaat semua. Saat ini saya bekerja sebagai auditor di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dimana salah satu penugasan yang rutin dilakukan BPKP adalah melakukan pengawasan dalam program-program pemerintah di bidang pertanian. Itu sebabnya, cukup banyak auditor BPKP yang melakukan kontak langsung dengan para petani di lapangan. Saya memang belum pernah melakukan pengawasan untuk program-program pertanian ini karena saya ditugaskan melakukan pengawasan di bidang lain, namun saya mendengar beberapa cerita dari teman-teman saya sesama auditor di BPKP mengenai permasalahan yang dihadapi oleh para petani di desa-desa. Masalah ini mengakibatkan para petani tidak bisa merasakan kesejahteraan meskipun ketika harga komoditas pertanian di Indonesia sedang naik. Jadi, apa saja masalah yang dihadapi oleh para petani?




Masalah yang pertama adalah para petani kesulitan memperoleh akses pembiayaan, baik untuk keperluan sehari-hari yang mendesak maupun untuk modal kerja. Akibatnya, jika memerlukan pinjaman, mereka harus mengijonkan tanaman mereka kepada para tengkulak. Para tengkulak ini pun mendapatkan keuntungan, sering kali dengan margin yang besar, dari selisih harga yang cukup signifikan. Akibatnya, kalau dihitung-hitung, para petani ini membayar bunga yang jauh lebih besar daripada bunga yang ditawarkan oleh bank. Anda bisa bayangkan, para petani yang terjerat praktik ijon ini yang sering kali berada di kelas ekonomi bahwa harus membayar bunga yang jauh lebih besar daripada para debitur perbankan yang sering kali secara finansial berada di kelas menengah ke atas.




Permasalahan yang kedua adalah terkadang hanya ada satu pengepul hasil panen dalam suatu wilayah. Atau, jika pengepulnya lebih dari satu, mereka beroperasi bagaikan kartel. Para petani terpaksa harus menjual panen mereka kepada para tengkulak ini, karena jika sekali saja  ada seorang petani berani menjual di luar jaringan kartel ini, sang petani ini di-black list. Para tengkulak ini tidak mau membeli hasil panen sang petani sehingga sang petani harus menanggung rugi yang luar biasa. Kekuatan yang dimiliki jaringan kartel inilah yang mengakibatkan para petani terpaksa menjual hasil panennya dengan harga murah.

Lalu apa solusinya? Monggo kalau ada yang punya masukan.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas internetbermanfaat.com.




5 tanggapan pada “Apa Masalah yang Dihadapi oleh Para Petani di Indonesia?”

  1. dear mas habibie

    terima kasih sudah mengangkat pertanian sebagai tema artikel hari ini….

    potret pertanian di indonesia memang masih menjadi hal yang sangat ironis sekali….indonesia yang di kenal sebagai negara agraris justru para petaninya menjadi golongan masyarakat yang belum sejahtera

    fokus yang ingin saya sampaikan adalah bahwa produktifitas hasil pertanian masih belum bisa di maksimalkan….saat ini hasil yang di dapatkan dari produksi padi masih besar pasak daripada tiang artinya petani masih rugi ketika mereka menanam padi….berarti tiap musim tanam petani “membuang buang” uang untuk membiayai lahannnya

    oleh karena itu sangat wajar lembaga keuangan belum bisa memberikan pinjaman kepada para petani sehingga petani akhirnya meminjam kepada para cukong dan rentenir dan membuat petani semakin sulit bisa keluar dari kesulitan

    beberapa hal yang ingin saya sampaikan:
    1. tingkatkan produktifitas tiap luasahan lahan pertanian (saat ini kisaran masih 2 ton/Ha)
    sehingga membuat hitungan penanaman pertanian menjadi lebih menguntungkan.(kisaran 10 ton/.ha)

    2. peningkatan produktifitas saat ini tidak bisa mengandalkan pupuk kimia karena pada dasarnya pupuk kimia secara jangka panjang justru merusak unsur hara tanah dan menyebabkan kesuburan tanah menjadi berkurang.(harus kembali menggunakan unsur alam)

    3. pemberian pelatihan yang berkelanjutan di sertai dengan pendampingan selama periode tanam sampe panen karena tanpa pendampingan secara instensif di lapangan kepda petani sangat sulit merubah pola tanam sekarang ini yang sudah terbukti tidak meningkatkan produktifitas hasil pertanian….di samping usia para petani sekararang yang rata rata di usia lanjut sehingga perlu pendekatan berbeda

    4. ketika hasil pertanian sudah menguntungkaan maka pihak lembaga keungan pun pasti bisa membuka akses pembiayaan bagi seluruh petani …

    masih banyak hal di luar yang saya sampaikan di atas yang masih menjadi kendala di lapangan tapi dalam forum ini saya sampaikan beberapa point saja sebagai gambaran awal untuk mencoba bersama sama memikirkan nasib petani di indonesia

    TERIMA KASIH

    1. Terima kasih Pak Yono atas komentarnya. Masalah teknis pertanian memang saya kurang menguasai sehingga terima kasih atas perhatiannya. Dalam tulisan ini, fokus yang saya sorot adalah tata kelola di sektor pertanian, karena ketika saya berdisukusi dengan teman-teman yang turun ke lapangan, mereka lebih fokus menyoroti masalah tata kelola ini. Akibatnya, sekalipun harga pangan sedang naik di Indonesia, para petani tidak merasakan manfaatnya. Namun, sekali lagi terima kasih atas tambahan informasinya, sangat bermanfaat.

  2. Sebenarnya masalah pertanian di daerah bukan karena tengkulak saja.Melainkan adalah masalah DISTRIBUSI penjualan yg kurang bagus. Misal daerah A panen Timun dlm jumlah besar sedang daerah B kurang atau kosong. Disini mungkin dibutuhkan peran pemerintah agar harga jual bisa seimbang. Dalam kasus ini yg sering terjadi daerah A harga sangat murah sekali (1 sak: 50kg hanya 10rb saja) bahkan sampai terbuang. Daerah B harga bisa sangat mahal.

  3. menurut pendapat saya para petani harus mampu mencari peluang di era digital ini, misalnya bekerja sama dengan starup yang bergerak di bidang pertanian. Dimana petani akan bertransaksi langsung dengan konsumen sehingga mereka akan mendapat keuntungan yang lebih banyak.

Tinggalkan Balasan