Darimanakah Sebenarnya Sumber Produk Domestik Bruto (PDB) Berdasarkan Literatur Ekonomi – Seri Memahami Makroekonomi (1)




Selamat pagi teman-teman bermanfaat semuanya. Seiring dengan demokratisnya Indonesia, obrolan politik dan ekonomi ramai mewarnai ruang-ruang publik, baik di seminar-seminar yang formal, maupun arena non formal seperti di warung-warung kopi. Apalagi di masa-masa menjelang pilpres seperti hari ini. Agar diskusi dalam bidang ekonomi menjadi lebih berkualitas, bermanfaat dan bermartabat, InternetBermanfaat.com berinisiatif menyajikan seri bahasan memahami makroekonomi. Dalam seri ini, kita akan membahas konsep-konsep makroekonomi berdasarkan buku teks akademis di level intermediate. Buku rujukan utamanya adalah Macroeconomics edisi 9 karangan N.G. Mankiw.




Topik yang pertama kita bahas kali ini adalah darimana Produk Domestik Bruto (PDB) bersumber. PDB adalah total barang dan jasa yang diproduksi di dalam suatu negara tanpa memperhitungkan depresiasi barang modal yang digunakan produksi dalam selang periode tertentu. Dalam literatur-literatur ekonomi di level principle atau pun introduction, umumnya terdapat empat faktor produksi, yaitu tenaga kerja (labour), barang modal (capital), tanah (termasuk sumber daya alam) dan entrepreneurship. Namun, dalam literatur-literatur makroekonomi di level intermediate dan advanced, sumber pendapatan domestik yang paling utama hanya tenaga kerja dan barang modal. Konsep ini sering disebut sebagai Solow-Growth Model Y = f(L,K) dimana L adalah jumlah tenaga kerja dan K adalah jumlah barang modal. Namun, ada juga pengembangan model ini menjadi Augmented-Solow-Growth Model Y = f(AL,K) dimana AL adalah efisiensi tenaga kerja. A adalah semacam koefisien yang menentukan seberapa efisien tenaga kerja. Dalam berbagai buku ekonomi di level Principle dan Introduction, efisiensi ini terutama berasal dari teknologi yang digunakan. Semakin canggih teknologinya, semakin efisien tenaga kerja dan barang modal dalam berproduksi.




Respons pertama yang mungkin timbul adalah, mengapa sumber daya alam tidak dimasukkan. Bukankah sumber daya alam juga secara signifikan meningkatkan pendapatan domestik? Nyatanya, beberapa negara Timur Tengah kaya raya karena minyak. Konsep yang paling dasarnya adalah sumber daya alam memiliki nilai ekonomis karena adanya campur tangan manusia di sana. Misalnya, emas di bawah tanah baru memiliki nilai ekonomis ketika manusia mengeruknya dari tanah dan memisahkannya dari material-material lainnya. Ketika masih berada di bawah tanah tak tersentuh, emas tidak memiliki nilai ekonomis. Sementara, barang modal bisa meningkatkan PDB karena barang modal bisa mengemulasi kerja tenaga manusia secara lebih efisien. Sejauh ini, untuk pekerjaan yang sifatnya rutin dan berulang, barang modal bisa mengerjakannya lebih cepat daripada tenaga kerja manusia.




Kalau kita melihat Tabel 1, maka kita akan melihat bahwa memang ada kecenderungan negara-negara dengan angkatan kerja yang semakin besar memiliki PDB yang juga semakin tinggi. Namun terdapat dua jalur pertumbuhan. Jalur pertama adalah jalur dimana pertumbuhan PDB terhadap angkatan kerja yang sangat efisien sebagaimana yang terjadi pada Jepang, Jerman, dan Inggris. Sementara, pada jalur dua yang diantaranya diisi oleh Indonesia, Brazil, dan Rusia, pertumbuhan terhadap angkatan kerjanya kurang efisien. Mengapa hal ini bisa terjadi. Kalau kita kembalikan kepada literatur, maka kemungkinan besar terdapat perbedaan pada jumlah barang modal yang digunakan. Sayangnya, saya belum menemukan data akumulasi barang modal, sehingga untuk sementara tidak saya bahas bagaimana data-datanya di dunia nyata. (Sebagai catatan, dalam Tabel 1 saya menyingkirkan Amerika Serikat, Cina, dan India dari data karena ketiganya sangat ekstrim sehingga data dari negara lain tidak terlihat. Amerika Serikat memiliki PDB yang terlalu tinggi, Cina memiliki angkatan kerja dan PDB yang terlalu tinggi, sementara India memiliki angkatan kerja yang sangat besar namun PDB-nya rendah).

Tabel 1

Perbandingan antara Angkatan Kerja dengan PDB Nominal Tahun 2016 (Data: World Bank)




Kalau ada yang merasa bahwa sumber daya alam penting dengan menjadikan Arab Saudi dan minyaknya sebagai contoh,  maka kita harus melihat bahwa Arab Saudi baru benar-benar merasakan manfaat ekonomis dari minyak mereka ketika perusahaan-perusahaan dari negara-negara maju memasukkan mesin-mesin produksi (barang modal) beserta tenaga ahli mereka ke sana. Faktanya, banyak negara-negara lain yang kaya sumber daya alam yang tidak sejahtera, seperti Venezuela dan Irak yang kaya minyak, maupun beberapa negara Afrika penghasil berlian. Sementara, negara-negara maju yang miskin sumber daya alam berhasil mengatasi kelemahan mereka dengan mengimpor bahan baku dan mengolahnya menjadi barang yang memiliki value yang jauh lebih besar. Dengan apa mereka mengolahnya? Dengan tenaga kerja dan barang modal mereka. Bahkan, jika sudah sangat ekstrem kemajuannya, mereka bahkan tidak perlu lagi mengimpor bahan baku. Proses produksi bisa dilakukan di negara lain, seperti di Cina dan Vietnam, sementara tenaga kerja di negara maju yang mengembangkan teknologinya.




Jadi, apa yang bisa kita simpulkan dari bahasan kali ini? Bahwa ketika kita berbicara bagaimana mendorong PDB, maka fokus pembahasan yang tepat adalah bagaimana caranya mendorong jumlah tenaga kerja, barang modal, dan efisiensinya (dimana teknologi adalah salah satu faktor penentu). Lalu, bagaimana dengan meningkatkan konsumsi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, apakah efektif? Dari sudut pandang literatur jawabannya tidak. Mengapa? Insya Allaah kita bahas dalam tulisan berikutnya. Sedikit petunjuk: Sticky Prices.

Referensi
Mankiw, N. G. (2016). Macroeconomics (9th ed.). New York: Worth Publishers.
Mankiw, N. G. (2018). Principles of Economics (9th ed.). Boston: Cengage Learning.
Parkin, M. (2012). Economics (10th ed.). Boston: Addison-Wesley.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas internetbermanfaat.com.




Tinggalkan Balasan