Mendorong Konsumsi Masyarakat Tidak akan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dalam Jangka Panjang. Mengapa? – Seri Memahami Makroekonomi (2)




Dalam pembahasan sebelumnya, kita mendapati bahwa faktor utama yang menentukan pertumbuhan ekonomi adalah jumlah angkatan kerja, barang modal, dan efisiensi dari kedua faktor ini. Namun, bila kita membaca di media massa, sering kali kita mendapati sejumlah ekonom menyatakan bahwa mendorong konsumsi masyarakat juga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Kalau menggunakan istilah kerennya, konsumsi masyarakat memberikan multiplier effect. Ketika masyarakat mengonsumsi, muncul lapangan kerja dan income. Income ini kemudian dikonsumsi lagi sehingga mendorong munculnya lapangan kerja lagi dan income, demikian terus-menerus. Akibatnya, PDB terpacu tumbuh dengan cepat. Akan tetapi, dari sudut pandang literatur ekonomi di level intermediate, apa yang terjadi tidak seperti itu. Mari kita kupas.




Yang pertama adalah, ketika berbicara tentang Produk Domestik Bruto (PDB), kita harus memilih salah satu dari dua kerangka analisis, apakah kita akan berbicara tentang jangka panjang atau tentang jangka pendek. Jika kita berbicara tentang ekonomi jangka panjang, maka kerangka analisis yang kita pakai adalah pertumbuhan ekonomi. Jika kita berbicara tentang ekonomi jangka pendek, maka kita berbicara tentang business cycle. Oke, jadi maksudnya bagaimana? Kalau kita berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, maka yang kita bahas adalah masalah barang modal, tenaga kerja, dan efisiensinya (teknologi). Sementara, kalau kita berbicara tentang konsumsi masyarakat mendorong pertumbuhan ekonomi, pada hakikatnya kita sedang berbicara tentang business cycle dan ekonomi jangka pendek.




Dalam teori ekonomi, dikenal ada dua macam PDB. PDB natural dan PDB riil. PDB riil adalah PDB yang dihasilkan secara riil, sementara PDB natural adalah PDB yang seharusnya dihasilkan dengan memperhitungkan jumlah tenaga kerja, barang modal, dan efisiensi keduanya. Lalu mengapa terjadi perbedaan antara PDB riil dengan PDB naturalnya? Mengapa pada satu momen PDB tampak tumbuh dengan cepat sementara pada momen lainnya pertumbuhan PDB melambat? Menurut literatur ekonomi di level intermediate, jawabannya adalah sticky price, atau lengketnya harga.




Sederhananya begini. Di dalam teori ekonomi, harga berubah secara fleksibel mengikuti situasi ekonomi riil sehingga PDB selalu berada pada titik ekuilibrium naturalnya. Namun, dalam jangka pendek, harga tidak sefleksibel itu. Misalnya, perusahaan tidak bisa serta-merta menurunkan gaji pegawai ketika ekonomi sedang lesu, atau pun rumah makan tidak bisa segera menaikkan harga makanannya ketika harga cabai dan daging meningkat. Yamaha tidak bisa meningkatkan harga motor R15 jika Honda tidak ikut menaikkan harga CBR150R sekalipun biaya produksi meningkat karena harga beberapa suku cadang naik akibat harga dollar naik, dan masih banyak penyebab lainnya. Distorsi pada harga inilah yang menyebabkan PDB riil seringkali tidak sama dengan PDB naturalnya.




Jadi, apa yang terjadi ketika pemerintah membuat kebijakan yang berusaha mendorong konsumsi secara artifisial? Perhatikan Diagram 1. Dalam jangka pendek, PDB memang akan terdorong meningkat, karena meski tenaga kerja dan barang modal dipacu marginal productivity-nya, gaji dan rent tidak otomatis ikut naik dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang, kedua komponen ini akan menyesuaikan. Ketika akhirnya gaji dan rent naik, maka harga-harga barang pun ikut naik sehingga jumlah output yang diminta turun. Akibatnya, dalam jangka panjang PDB akan kembali ke level naturalnya, namun bedanya tingkat harga kini menjadi lebih mahal.

Diagram 1

Efek Peningkatan Aggregate Demand terhadap PDB




Anda mungkin akan berpikir, tunggu dulu, mengapa LRAS fixed? Bukankah kita tahu bahwa PDB terus tumbuh, itu artinya LRAS juga akan terus tumbuh dan tidak fixed? Yup, ketika saya membaca model ini pertama kali, hal tersebut terlintas dalam pikiran saya. Namun, ketika saya melakukan analisis lanjutan, maka saya dapati bahwa model ini seperti lazimnya semua model ekonomi menggunakan asumsi ceteris paribus. Tenaga kerja dan barang modal dianggap fixed. Akan tetapi, jika kita masukkan perhitungan bahwa tenaga kerja dan barang modal tumbuh seperti biasa, kemudian ekonomi kita pacu dengan mendorong konsumsi, tetap akan kita dapati bahwa PDB riil tumbuh lebih tinggi daripada PDB naturalnya, dan dalam jangka panjang akan terjadi kick back seperti yang sudah kita bahas sehingga PDB akan kembali ke level naturalnya namun dengan tingkat harga yang kini menjadi lebih mahal. Masih bingung? Sederhananya, kalau kita masukkan pertumbuhan tenaga kerja dan barang modal ke dalam model kita, hasilnya akan sama. Bedanya, Diagram 1 akan menjadi lebih ruwet. Kira-kira begitu lah.




Lalu, apakah kebijakan mendorong konsumsi tidak ada gunanya? Tidak, kebijakan mendorong konsumsi tetap ada gunanya, jika niatnya tepat. Mendorong konsumsi untuk mendorong PDB dalam jangka panjang memang secara teknis tidak ada manfaatnya. Namun, apabila negara dalam kondisi krisis ekonomi atau resesi, dimana terjadi demand shock, yaitu aggregate demand tiba-tiba turun drastis dan diprediksi akan berlangsung lama, maka pemerintah bisa melakukan dorongan kepada daya beli masyarakat untuk mengembalikan ekonomi ke dalam treknya atau setidaknya melakukan smoothing. Kebijakan ini bisa dibilang seperti alat pacu jantung. Ketika seseorang berada dalam kondisi sehat, penggunaan alat pacu jantung justru berbahaya bagi jantung. Namun, jika seseorang mengalami serangan jantung, maka alat pacu tersebut bisa mengembalikan detak jantung ke ritmenya. Jadi, bermanfaat atau tidak, semua kembali kepada niatnya.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas internetbermanfaat.com.




Tinggalkan Balasan