Mengapa Banyak Startup Unicorn dan Decacorn Belum Berani IPO di Bursa Saham

Saat ini konon disebut sebagai era disrupsi. Perkembangan teknologi informasi yang pesat memunculkan sejumlah layanan bisnis baru berbasis internet. Sejatinya, layanan berbasis internet sudah pernah booming di era akhir 90-an s.d. awal 2000-an. Namun, dengan keterbatasan teknologi saat itu, dimana laptop masih sangat mahal, telepon selular masih sangat sederhana, dan akses internet yang masih sangat terbatas, layanan yang diberikan tidak semasif dan sevariatif saat ini.

Ketika sejumlah layanan berbasis internet ini kemudian menjadi bagian hidup kita sehari-hari, semisal Go-Jek, Grab, dan Tokopedia, tentu tidak mengherankan jika kita ingin turut memiliki layanan tersebut. Menjadi saksi atas pertumbuhan layanan tersebut dan bagaimana ia memberikan manfaat dan kenyamanan bagi diri kita, ada romantisme tersendiri jika kita bisa mengoleksi sahamnya. Maka tak heran, jika para unicorn dan decacorn ini begitu dinantikan IPO sahamnya.

Namun, IPO saham bukanlah ide yang bagus bagi perusahaan startup. Perbedaan dalam pola pikir pemodal saham dengan pemodal ventura menjadi alasannya. Pemodal ventura, yang menjadi sumber utama modal para startup, memiliki risk appetite yang tinggi. Mereka berani mengambil risiko besar karena mereka membidik keuntungan yang luar biasa besar. Terkadang, melalui cara-cara yang tidak lazim. Sementara, pemodal saham lebih fokus pada keuntungan yang lebih cepat, riil, dan kongkret.




Sejatinya, banyak startup besar yang dari luar tampak gagah, namun keuangannya keropos. Layanan mereka tersebar dimana-mana, konsumen yang menggunakan jasa mereka terlihat sangat besar, namun kondisi keuangan mereka sebenarnya berdarah-darah. Hal ini terjadi karena mereka menjual jasa mereka lebih murah daripada biaya produksi atas nama akuisisi pelanggan dan valuasi bisnis.

Maka, memasukkan perusahaan dengan profitabilitas rendah (bahkan negatif) ke bursa saham bukanlah sebuah hal yang bijaksana untuk dilakukan. Investor saham akan menuntut profit cepat, yang berarti pertumbuhan akuisisi pelanggan akan menurun drastis. Itu pun masih lebih baik jika hanya pertumbuhan akuisisi pelanggan yang turun. Bagaimana jika profit yang dinanti ternyata tak kunjung datang. Atau, jika pun datang, ternyata tidak sebesar yang digadang-gadang. Harga saham bisa hancur lebur.

Dan hal ini sudah terjadi di beberapa startups. Saham Twitter yang di awal IPO sempat mengalami euforia, akhirnya rontok. Sampai dengan hari ini, saham Twitter bahkan masih belum bisa mencapai harga pertama rilis (bahkan harga sebelum euforia dimulai). Contoh terbaru adalah Uber Technologies Inc. yang sahamnya baru rilis 10 Mei 2019. Dengan harga IPO US$41,57, harga saham Uber per tanggal 8 November 2019 hanya senilai US$27,37.

Pergerakan Harga Saham Uber (Gambar: Google)

Itulah mengapa para startups kerap tampak enggan melantai di bursa saham. Bukan hanya khawatir tidak bisa memperoleh modal yang diharapkan, namun juga karena khawatir bangunan bisnisnya bisa runtuh karena tidak ada lagi fleksibilitas dalam melakukan manuver bisnis. Pada akhirnya, seorang investor bebas melakukan investasi. Maka, berinvestasilah dengan bijak.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas internetbermanfaat.com.




Tinggalkan Balasan