Mengapa Jalan-Jalan ke Inggris (dan Beberapa Negara Eropa) di Musim Dingin Bukan Sebuah Ide yang Baik




Berjalan-jalan ke Kota Bath di musim dingin (Foto: Koleksi Pribadi)

Berjalan-jalan ke Eropa di musim dingin merupakan impian banyak orang. Romantisme melihat keindahan arsitektur kuno yang berkelas ala Eropa dipadukan dengan salju menjadi bayangan banyak orang di Indonesia. Maklum, salju tidak turun di Indonesia. Ketika kemudian kita dicekoki dengan sejumlah tayangan Hollywood dengan gambaran salju di musim dingin tentu kita menjadi penasaran. Hal itu juga yang menjadi impian saya ketika memilih melanjutkan studi master saya di Inggris. Namun apalah daya, ketika akhirnya saya menjalani kehidupan di sana, ternyata apa yang saya temui berbeda.




Satu yang perlu anda ketahui bahwa ternyata tidak semua negara Eropa bersalju di musim dingin. Inggris adalah salah satunya. Bukan berarti bahwa salju sama sekali tidak turun, tapi umumnya, sekalipun turun, terjadi di waktu subuh dan itu pun segera mencair. Memang, dalam satu tahun, ada satu dua hari dimana saljunya bertahan cukup lama, akan tetapi tidak terlalu lama. Turun tengah malam untuk kemudian habis mencair jam 10 atau 11 pagi. Akhir tahun 2017 dan awal tahun 2018 ini memang sempat terjadi badai salju yang berlangsung selama beberapa hari. Namun hal itu adalah anomali.




Alasan kedua adalah begitu dinginnya udara di musim dingin. Jangan bayangkan dinginnya musim dingin di Inggris seperti dinginnya puncak. Beda jauh. Rasanya seperti anda dimasukkan ke dalam freezer, kemudian freezer ditutup, kulkas dikunci, dan kuncinya dibuang ke halaman luar. Apalagi ketika angin berhembus, dinginnya udara menjadi semakin menusuk. Dan di Inggris, angin berhembus sangat sering. Percayalah, berlama-lama di luar ruangan terasa sangat menyiksa.




Dan alasan yang terakhir adalah pendeknya waktu siang. Di kota Birmingham, Inggris misalnya. Di puncak musim dingin, matahari baru terbit pada pukul 08.18 dan sudah terbenam pada pukul 15.48. Akibatnya, anda akan lebih sering menikmati suasana malam. Apalagi jika anda seorang muslim. Di musim dingin, seringkali saya memilih kereta pukul 7.30, tidak bisa lebih pagi lagi, karena harus sholat subuh dulu di stasiun pukul 6.40. Belum untuk sholat dzuhur dan ashar yang seringkali harus saya lakukan di taman karena waktu maghrib segera tiba. Berbeda dengan melakukan perjalanan di musim panas, waktu bisa lebih fleksibel. Pada masa puncaknya, sholat maghrib baru datang pada pukul 21.30. Anda bisa berjalan-jalan sampai cukup lama dan menjamak sholat dzuhur dan ashar di penginapan sambil rehat sebelum mencari makan malam (yang dilakukan saat langit masih terang benderang).




Jadi, kapan sebaiknya anda melakukan perjalanan. Anda harus fokus pada apa tujuan anda jalan-jalan. Jika fokus anda mencari salju, maka pastikan kota yang anda kunjungi memang bersalju. Atau, jalan-jalanlah ke pegunungan di Swiss (namun pastikan lagi apakah bersalju atau tidak). Jika fokus anda adalah menikmati suasana keramaian ala Eropa dipadu dengan bangunan-bangunan klasik yang berkelas, musim panas adalah waktu yang paling tepat. Jangan sampai, anda sudah keluar uang banyak, bukan salju yang anda dapatkan, namun hanya dingin dan gelapnya kota. Semoga bermanfaat.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas internetbermanfaat.com.




4 tanggapan pada “Mengapa Jalan-Jalan ke Inggris (dan Beberapa Negara Eropa) di Musim Dingin Bukan Sebuah Ide yang Baik”

Tinggalkan Balasan