Operasional VOC di Jepang dan Cerita Dibalik Kebijakan Isolasi Jepang di Era Tokugawa – Sejarah VOC (5)




Surat Izin Berdagang Belanda yang Dikeluarkan oleh Tokugawa Ieyasu (Foto: Nationaal Archief, Wikipedia)

Setelah di tulisan sebelumnya kita membahas tentang kompleksnya jaringan perdagangan intra-Asia VOC dimana Jepang menjadi salah satu negara yang terkait dalam jaringan tersebut, tulisan ini akan membahas lebih lanjut tentang operasional VOC di Jepang dan sedikit cerita dibalik kebijakan isolasi Jepang di Era Tokugawa. VOC mulai melakukan perdagangan dengan Jepang pada tahun 1609. Untuk menjalankan kegiatan operasionalnya, VOC memperoleh izin untuk mendirikan kantor dagangnya di Pulau Hirado, lepas pantai Kyushu.




Pada tahun 1637, terjadi pemberontakan Shimabara yang dilakukan oleh kalangan Kristen/Katolik Jepang kepada pemerintahan Tokugawa. VOC turut membantu pemerintahan Tokugawa memadamkan pemberontakan ini. Atas kejadian ini, pemerintah Tokugawa mengusir seluruh negara-negara kristen/katolik yang terlibat, dan VOC menjadi satu-satunya pedagang dari Eropa yang diizinkan beroperasi di Jepang. Ini juga yang menjadi salah satu penyebab utama pemerintah Tokugawa menerapkan kebijakan isolasi (Sakoku) pada tahun 1638.




Pada tahun 1941, VOC harus memindahkan kantor dagangnya dari Hirado ke Pulau Dejima di Nagasaki yang dulunya merupakan lokasi kantor dagang milik Portugis. Untuk mencegah terjadinya pemberontakan lagi, VOC juga dilarang melakukan misi keagamaan dan secara eksplisit diperintahkan untuk bekerja di hari minggu.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas internetbermanfaat.com.




Tinggalkan Balasan