Please para Produsen, Jangan Menipu Konsumen dengan Harga yang (Seolah-olah) Murah. Konsumen Tidak Sebodoh Itu Kok




Sahabat bermanfaat sekalian, pernahkah mengalami melihat harga tiket di sebuah aplikasi begitu murah, eh begitu kita mau checkout pembayaran ternyata mahal? Atau pernahkah teman-teman membaca di sebuah papan reklame paket kuota internet yang tampaknya murah, namun ketika kita cek ternyata banyak banget layer pembagian kuotanya yang ujung-ujungnya ternyata kuota 24 jam-nya kecil banget?




Saya pernah mengalaminya sekitar tahun 2012, zaman Traveloka dkk belum ada. Saya mencoba cek harga tiket Air Asia. Ketika membuka pertama harganya tampak murah banget. Namun, ternyata, proses menuju halaman pembayaran sangat rumit. Harus klak-klik sana-sini melalui berhalaman-halaman web yang sangat memakan waktu dan pemikiran. Dan ketika akhirnya tiba di halaman pembayaran, ternyata harganya sama saja dengan kompetitor, bedanya proses menuju halaman pembayarannya sangat panjang dan melelahkan. Kalau seperti ini, dimana value-nya? Apa yang terjadi kemudian? Momen itu adalah momen yang pertama dan yang terakhir saya membuka situs Air Asia. Untuk apa saya membuka situs Air Asia? Sudah ribet, harga sama. Bagi saya, sangat tidak value.




Ada kasus lagi. Seorang teman menggunakan app pemesanan hotel dimana ada sebagian app yang awalnya menunjukkan harga yang luar biasa murah namun ketika check out ternyata ujung-ujungnya mahal. Apa yang terjadi? Teman saya kapok tidak mau menggunakan aplikasi tersebut. Kalau menurut seorang rekan yang lain, kemungkinan karena dalam setting-an aplikasi belum di-klik include tax. Itulah mengapa harga yang dibayar jadi membengkak. Tapi ini jelas sebuah kesalahan besar. Produsen seharusnya menyederhanakan aplikasinya. Sangat tidak bijaksana jika produsen mengharapkan konsumen mengotak-atik aplikasi terlebih dahulu untuk layak digunakan. Dan akibatnya bisa fatal. Teman saya tersebut sekarang kapok menggunakan app tersebut, dan bisa jadi dia bukan satu-satunya potential customer yang tidak kembali. Jangankan bicara repeat order, first order pun tidak pernah terealisasi.




Mengapa para produsen melakukan kebijakan harga (seolah-olah) murah? Bisa jadi, produsen menggunakan strategi ini untuk menarik konsumen datang ke situsnya. Syukur-syukur jika konsumen salah membaca dan melakukan pembelian. Namun, strategi ini bisa kurang sustainable. Meningkatkan traffic memang penting. Namun, conversion rate juga harus dipertimbangkan. Harga terpampang (seolah-olah) murah memang pada awalnya menarik traffic. Namun, jika kemudian pada kenyataannya tidak benar-benar murah, maka conversion tidak terjadi. Dan jika hal ini terjadi berulang-ulang, konsumen bisa kehilangan kepercayaan mereka pada produsen.




Dalam dunia marketing, sangat penting bagi produsen untuk memberikan value yang sama dengan ekspektasi konsumen. Jika value yang diberikan ternyata lebih rendah daripada ekspektasi konsumen, konsumen akan kecewa. Dalam persaingan bisnis yang begitu ketat semisal startup travel agents, produsen bisa jadi hanya punya satu kesempatan untuk meyakinkan konsumen. Ketika konsumen kecewa karena apa yang mereka peroleh jauh dari ekspektasi mereka, bisa jadi malah mereka kapok dan tidak akan kembali.




Tirulah Traveloka. Tarif yang mereka tawarkan di depan adalah tarif yang anda bayarkan. Konsumen tidak merasa tertipu. Akibatnya, murah atau tidak harga tiket di Traveloka, mereka tetap relevan dijadikan sebagai pembanding. Apalagi jika selisih harga dibandingkan kompetitor ternyata tidak terlalu jauh. Harga yang terkadang sedikit lebih mahal masih bisa dimaafkan konsumen jika memang navigasi situsnya mudah dan proses refund-nya tidak berbelit. Ada value yang ditawarkan. Hal ini jauh lebih baik daripada susah payah membuang rupiah untuk beriklan tapi konsumen sudah tidak percaya lagi akan apa yang mereka baca.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas internetbermanfaat.com.




4 tanggapan pada “Please para Produsen, Jangan Menipu Konsumen dengan Harga yang (Seolah-olah) Murah. Konsumen Tidak Sebodoh Itu Kok”

  1. Produsen bodoh yang masih suka gaya gimmick marketing begini tidak memikirkan nasibnya akan cepat berakhir bila masih menganggap bodoh calon konsumen.

  2. sekarang lagi trend Flash sale di beberapa market place
    justru beberapa kali saya pratiin harganya menipu, malah lebih mahal dari harga non flash sale
    serta jadi kesempatan beberapa seler menjual prod yang sebenarnya tidak laku/grade B/Reject

Tinggalkan Balasan