Yahoo! Groups Akhirnya Tutup: Mengenang Sebuah Layanan yang Pernah Berjaya

Berita mengejutkan namun sebenarnya tidak betul-betul mengejutkan itu masuk ke timeline saya beberapa hari yang lalu. Layanan Yahoo! Groups akan ditutup akhir Oktober ini. Mengejutkan karena Yahoo! Groups sempat menjadi layanan yang sangat digemari para netizen untuk berkumpul dan berdiskusi di masa lalu. Tidak mengejutkan karena bahkan beberapa bulan lalu saya sempat iseng menengok layanan tersebut untuk melihat apakah masih ada kehidupan di sana. Ketika saya mengatakan bahwa saya iseng, itu artinya saya sudah sangat lama tidak menggunakan layanan tersebut.

Generasi muda saat ini mungkin tidak tahu betapa populernya Yahoo Groups! di masa lalu. Sebagai gambaran, apa yang kita lakukan hari ini di Whatsapp groups dan Facebook groups dulunya dikerjakan menggunakan Yahoo! Groups. Di masa dimana teknologi yang ditawarkan oleh browser masih sangat sederhana, PDA (Personal Digital Assistant – istilah jadul untuk smartphone) merupakan barang mewah, dan tarif internet seluler yang kelewat mahal; mailing list, atau milis dalam bahasa sehari-hari di Indonesia, adalah salah satu metode diskusi massal utama. Penyedia jasa milis berfungsi sebagai hub antar member. Member akan mengirimkan email ke penyedia layanan, kemudian penyedia layanan akan mendistribusikan email tersebut kepada member lainnya. Milis juga dapat diakses dalam format forum digital.

Yahoo! Groups diluncurkan pada tahun 2001 oleh Yahoo! Layanan ini merupakan merger atas Yahoo! Clubs yang diluncurkan pada tahun 1998 dan eGroups.com (salah satu layanan milis terpopuler di dunia saat itu) yang dibeli Yahoo! pada tahun 2000. Dengan posisi Yahoo! saat itu yang merupakan salah satu perusahaan web terbesar di dunia, Yahoo! Groups dengan cepat menjadi rujukan komunitas online.




Namun, sayangnya Yahoo! Groups gagal beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kemunculan Facebook sebagai media sosial Palugada (Apa yang Lu Mau Gue Ada) dan berbagai platform media sosial lainnya membuat Yahoo! Groups terasa seperti sebuah produk retro (baca: ketinggalan zaman). Apalagi, media sosial menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh Yahoo! Groups, one-stop social app. Selain untuk berdiskusi, media sosial juga dapat digunakan oleh netizen untuk memuaskan ego akan eksistensi diri.

Yahoo! bukannya tidak memperjuangkan diri di era media sosial. Mereka mengembangkan semacam fitur media sosial di aplikasi Yahoo! Messenger-nya, namun sayangnya tidak didukung dengan publikasi yang memadai dan fitur yang teramat minim. Pada tahun 2010, Yahoo! sempat mengakuisisi startup media sosial asal Indonesia, Koprol. Namun, ternyata akuisisi ini tidak memberikan hasil yang diharapkan. Hanya dua tahun berselang, Koprol ditutup. Dan yang terjadi terjadilah. Tanpa memperoleh dukungan platform lain dan tanpa pengembangan yang berarti, Yahoo! Groups harus berakhir.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas internetbermanfaat.com.




Tinggalkan Balasan