Yahoo!: Menuju Akhir Fase Sang (Mantan) Raksasa Internet

Meneruskan pembahasan mengenai Yahoo!, hari ini kita akan mengenang bagaimana Yahoo! menjadi raksasa bisnis di pertengahan tahun 90-an sampai dengan pertengahan tahun 2000-an, dan kemudian mengalami penurunan yang berakibat penjualan bisnisnya ke Verizon Communication pada tahun 2017.

Yahoo! didirikan oleh Jerry Yang dan David Filo pada Januari 1994. Keduanya adalah mahasiswa Stanford University. Awalnya, nama yang mereka gunakan adalah “Jerry and David’s Guide to the World Wide Web”. Nama ini hanya bertahan dua bulan karena pada Maret 1994, mereka mengubah nama situsnya menjadi Yahoo!.

Yahoo! berkembang karena mereka cukup jeli untuk menyelesaikan berbagai masalah dan membaca kebutuhan pelanggan. Pada mulanya, Yahoo! adalah situs yang berisi direktori berbagai alamat situs berdasarkan beberapa genre layaknya buku telepon. Namun, pada tahun 1995, mereka menambahkan kemampuan search engine. Di Bulan Oktober 1997, Yahoo! mulai menawarkan layanan email gratis setelah mengakuisisi Rocketmail. Tahun 1999, Yahoo! membeli Geocities seharga 3,6 miliar dollar untuk kemudian memberikan layanan web hosting gratis. Pada tahun 2000, Yahoo! menggunakan Google untuk search engine-nya. Kerja sama ini berakhir pada tahun 2004 setelah mereka merasa cukup percaya diri untuk menggunakan search engine mereka sendiri. Yahoo! Groups, layanan yang rencananya akan ditutup pada akhir bulan ini, membantu para netizen untuk berdiskusi secara online. Sementara, Yahoo! Answers menawarkan layanan pencarian jawaban atas berbagai permasalahan. Dan masih banyak lagi layanan Yahoo! yang lain.




Namun, inovasi itu seakan terhenti pada pertengahan tahun 2000-an. Ketika Google menawarkan layanan email gratis Gmail yang memiliki kapasitas besar serta kemampuan sinkronisasi POP3 dan IMAP (fitur penting di masa itu yang lazimnya hanya tersedia untuk pelanggan berbayar). Yahoo! dengan setengah hati hanya menambah kapasitas emailnya. Kemunculan berbagai media sosial juga merontokkan berbagai lini produk Yahoo!. Setidaknya, Yahoo! News, Yahoo! Messenger, dan Yahoo! Groups, dihajar oleh Facebook dan Twitter. Keberadaan BBM Messenger dan Whatsapp juga membuat Yahoo! Messenger semakin ketinggalan zaman. Yahoo! bukannya tidak memberikan perlawanan. Mereka menambahkan fitur media sosial milik mereka sendiri memanfaatkan Yahoo! Messenger, dan juga membeli Koprol untuk pasar Indonesia. Gagal, mereka pun membeli Tumblr pada tahun 2013 senilai 1,1 miliar dollar. Namun, ini masih tidak cukup untuk menyelamatkan situasi keuangan mereka.

Pada tahun 2017, Yahoo! pun dijual ke Verizon Communication senilai 4,48 miliar dollar. Ironis, karena pada tahun 2008, Microsoft pernah mengajukan tawaran sebesar 44,6 miliar dollar. Namun, penjualan Yahoo! tidak dilakukan sepenuhnya. Hal ini terjadi karena Yahoo! memiliki satu investasi yang sukses besar, yaitu kepemilikan saham pada Alibaba yang dibeli pada tahun 2013 dan 2015. Kepemilikan saham 35,5% atas Yahoo! Japan juga tidak dilepas. Saat ini, Yahoo! yang asli sudah berubah nama menjadi Altaba. Sementara, yang saat ini kita kenal sebagai Yahoo! sesungguhnya sudah dikelola oleh pemilik barunya, Verizon Corporation.

Menarik dinanti bagaimana perkembangan Yahoo! di masa depan. Saya teringat di masa lalu ketika saya meng-install ulang komputer saya, Yahoo! Messenger adalah aplikasi yang wajib untuk saya install. Terakhir kali saya melakukannya mungkin di tahun 2011 atau 2012. Yahoo! Mail sudah lama saya tinggalkan. Ketika Google Mail muncul, segera saya membuat akun Google Mail. Dengan tarif internet yang sangat mahal di masa itu, sinkronisasi POP3 yang ditawarkan Gmail dapat menghemat pulsa saya karena saya dapat mengakses email yang telah di-download sewaktu-waktu tanpa perlu menggunakan internet lagi. Pada awalnya, saya masih tetap menggunakan Yahoo! Mail sebagai email utama saya selama beberapa tahun berikutnya karena berharap Yahoo! membuka akses POP3 dan IMAP. Namun, ketika apa yang saya nanti tidak kunjung tiba, saya memutuskan untuk beralih total ke Google Mail (meski kini sebenarnya saya sudah tidak menggunakan POP3 dan IMAP lagi). Fleksibilitas dan kemudahan Facebook Groups membuat saya meninggalkan Yahoo! Groups.

Yahoo! sempat menjadi raja di dunia digital karena mereka menawarkan solusi atas masalah para netizen di masa lalu. Sayangnya, mereka gagal menawarkan solusi atas masalah netizen di masa kini. Dan itulah mengapa, kini mereka tidak lagi relevan.

Jangan lupa like halaman facebook atau follow akun twitter kami untuk mendapatkan update tulisan-tulisan terbaru khas internetbermanfaat.com.




Tinggalkan Balasan